Victoria oh Victoria
Siapa bertengger di nomor 1 celebrity yang diharapkan berkurang pemberitaannya tahun depan? Victoria Beckham (versi the Guardian).
Victoria, salah satu dari pasangan paling terkenal di Inggris Posh and Becks memang selalu dibenci media di Inggris. Dibenci bukan berarti tidak diberitakan (ingat kasus boikot wartawan hiburan Ind terhadap Desi Ratnasari), justru Victoria lah yang paling banyak ditampilkan di halaman satu tabloid atau majalah entertainment. Alasannya: gambar posh di sampul majalah menjadi jaminan penjualan.
Tetapi lucunya, isi dari semua pemberitaan media hampir selalu negatif, ia yang tidak "berkelas " lah atau di istilahkan sebagai the Essex girl. Tidak bisa menyanyi, rude, mendompleng ketenaran suaminya, dll yang serba jelek. Dan orang Inggris membeli majalah atau tabloid juga berharap mendapat cerita jelek Victoria.
Sebaliknya tulisan tentang David Beckham akan berisi pujian-pujian dari mulai style-nya: baju dan rambut ataupun prestasinya di sepakbola hingga selalu digambarkan sebagai bapak yang baik. Tidak sekalipun saya baca tulisan Victoria dipotret sebagai ibu yang baik bagi Romeo dan Brooklyn.
Pokoknya kalau media Inggris berbicara tentang Victoria, tidak ada baiknya secuilpun. Bahkan acara celebrity behaving badly di Sky One menyatakan bahwa pekerjaan terburuk dan paling menyedihkan bagi seorang manusia adalah menjadi asisten pribadi Victoria. Sebegitu buruknya media menggambarkan Victoria.
What’s wrong with Victoria? "I don’t know. Apa pun yang saya lakukan akan selalu dipandang salah," katanya suatu waktu. Sebagai satu-satunya angota Spice Girl yang lagunya tidak pernah menjadi nomer 1 di chart Inggris adalah lahan paling subur bagi media untuk semakin menjelekkan Victoria.
Minggu-minggu terakhir ini ia gencar berpromosi album barunya hasil kerja sama dengan Damon Dash rapper asal Amerika. Apa kata media tentang itu, " poor old Victoria, ketika kita tengah menanti pergantian tahun dengan besantai-santai, ia desperate untuk lagunya menjadi nomor 1".
Ketika minggu lalu ia tampil di acara talk show BBC, froday night with Jonathan Ross( dalam rangkain promosi albunya tentu saja) apa pertanyaan pertama Jonathan," When, will you stop singing?" Ada juga acara the 'Real' Beckham di malam natal yang menceritakan kehidupan pasangan ini selama 6 bulan sejak Beckham pindah ke Real Madrid. Program satu jam yang ternyata lebih tentang Victoria dibanding apa yang disebut di judulnya mencoba membalik pandangan umum tentang Victoria , bagian dari promosi albumnya juga. Berhasil? No way.
Saya (tentu saja ) tidak kenal Victoria, tetapi dari apa yang saya baca dan lihat di TV cukup untuk saya bergabung dengan mayoritas di Inggris: pembenci Victoria. Tidak adil memang, seperti yang dikatakan suaminya."Saya pikir people sudah men-judge Victoria bahkan sebelum ia melakukan apa-apa," kata Beckham tentang istrinya.
Dan pembelaan Beckham tampaknya tidak ada habisnya, di setiap kesempatan ia selalu menunjukan cintanya pada istrinya. Dan kebencian publik juga tidak mengurangi penghasilan Victroria, justru sebaliknya. Designer terkenal berebut mendandaninya dengan maksud bajunya akan banyak di foto. Sementara celebrity seperti Elton John, Elizabeth Harley, Sharon Oshbourne, Enrique Igglesias berebut jadi temannya.
Jangan-jangan itu lah alasan sebenarnya kebencian media dan juga publik di Inggris, iri dengan apa yang ia punya. Ia yang bersuamikan the sexiest man on the planet, ia yang punya uang tanpa batas, keluarga yang bahagia, teman-teman celebrity A-list: woman who has everything.
Ketika seorang wanita punya segalanya, memang ia cenderung akan dibenci. Tetapi kalau laki-laki yang punya segalanya maka ia akan di puja. Inggris selalu berharap yang terbaik untuk David Beckham tetapi justu bersorak ketika lagu Victoria kembali gagal menjadi nomor 1 di chart minggu terakhir tahun ini. Setidaknya wanita itu tidak memiliki segalanya.
*Menjadi nomor satu tangga lagu di akhir tahun, atau dikenal sebagai cristmas number 1--adalah yang paling bergengsi di Inggris. Tiap perusahaan rekaman dan penyayinya bersaing keras dan promosi habis-habisan untuk albumnya paling banyak di beli sebagai Cristmas present.
*Setelah berkali-kali gagal, Victroria Beckham menganti manajernya dan bergabung dengan Simon Fuller, sosok dibalik sukses Spice Girl, yang juga manajer musik paling sukses di Inggris. Menjual nama David Beckham adalah salah satu strategi Simon, tetapi tangan dingin Simon Fuller dan nama besar David Beckham pun tidak mampu mendongkrak pernjualan album Victoria.
*Akankah Victoria give up singing setelah ini? It doesn't sound like her.
Wednesday, December 31, 2003
Tuesday, December 30, 2003
Revolusi Jamie dan Delia Power
Jamie Oliver namanya. Chef atau koki muda kenamaan di Inggris ini ditemukan secara tidak sengaja empat tahun lalu. Produser BBC yang tengah memproduksi acara masak di River Café, restoran Italia di London tempat Jamie bekerja, mendapati chef muda yang antusias, passion tentang masakannya sekaligus juga cool.
Produser jeli itu kemudian meggodok proyek pembuatan seri acara masak dengan Jamie Oliver sebagai bintangnya. Ditampilkan funky, mengobrol dengan kru ketika memasak, menampilkan teman-temannya yang juga keren, muncullah di BBC 2 acara masak baru dengan judul the Naked Chef
"It’s the food, silly. Not me naked,"kata Jamie sambil tiduran di sofa mengawali serial mingguan sepanjang setengah jam yang berhasil mengubah pandangan tentang chef dan memasak di Inggris. Kata-kata baru pun ia ciptakan, yang paling terkenal adalah pukka, bahasa Jamie untuk enak. Serialnya menjadi hit dan ia pun menjadi selebritis yang diundang kesemua pesta bertajuk "the hottest ticket in town", termasuk pesta David dan Victoria Beckham.
Apa kelebihan Jamie? Ia mengubah citra memasak sebagai sesuatu yang keren sekaligus juga fun. Ia yang sering menumbuk dengan gilingan roti, memanggang diselingi main basket, tetapi juga kenal baik dengan pelayan toko tempat ia membeli bahan masak. Namun juga tetap punya teman-teman nongkrong yang keren.
Acara the Naked Chef yang diisi dengan obrolan seru, polah kocak Jamie, dan menghasilkan masakan yang "mouth watering" bagi yang menonton. Di tutup dengan pesta atau sekedar kumpul-kumpul di apartemen Jamie dengan hidangan hasil olahannya itu.
Kadang dalam rangka menyambut temannya, menampung teman-teman ceweknya—cewek-cewek cantik—usai night out bahkan juga sekedar menghabiskan malam dengan karibnya: alias makan di depan TV ditemani berkaleng-kaleng bir.
Kini ia punya dua restoran terkenal di London, yang terbaru adalah fifteen hasil proyeknya mendidik 15 orang pemuda pengangguran menjadi chefs handal. Proyeknya ini juga menjadi serial sukses di Channel 4 berjudul Jamie's Kitchen. Kini ia berusia pertengahan dua puluhan, berputeri dua dari istrinya Jool, mantan model yang sejak pacaran rajin muncul di the Naked Chef.
Sainsbury, supermarket kedua terbesar di Inggris pun mengontraknya menjadi bintang iklannya. Hasilnya, penjualan meroket dan muncul pula produk-produk Sainsbury dengan memasang nama Jamie di kemasannya. Laris manis, terutama untuk fans Jamie: anak-anak muda Inggris yang kini punya hobby baru memasak. Instead of beli pizza atau take away, kini pesta-pesta anak muda di Inggris lebih sering hasil masak-memasak sendiri ala Jamie.
Sementara Delia Smith adalah ibu yang menjadi guru bagi semua rumah tangga di Inggris. Program memasaknya yang telah puluhan tahun disiarkan BBC menjadi acuan ibu-ibu menyiapkan hidangan di rumah. Dari mulai bagaimana merebus telur yang benar hingga hidangan pesta natal diajarkan Delia dengan tekun step by step.
Berbeda dengan Jamie, Delia memasak dengan tertib, temponya lebih lambat dan satu persatu diterangkan dengan detail. Tetapi kekuatannya bahkan melebihi Jamie, terutama dalam hal menggerakan massa secara nasional! Suatu hari sainsbury dan supermarket lain di Inggris kehabisan telur. Semua manajer pun bingung dengan peristiwa langka: telor di mana-mana out of stock!
Apa sebabnya? Ternyata malam harinya di BBC, Delia menampilkan bagaimana mengolah telur, makanan murah sehari-hari, menjadi istimewa. Dadar (omelette) istimewa, ceplok telur yang tidak gosong, hingga membuat telor setengah matang yang sempurna. Begitu indah ia mendemonstrasikan hidangan serba telur, semua yang menonton malam itu - menurut BBC acaranya ditonton jutaan orang - memutuskan membeli telur dan mencobanya ala Delia.
Tidak hanya itu kehebatan Delia Power. Ketika ia mengungkap rahasianya membuat coklat cake adalah menambahkan bubuk tertentu. Maka penjualan bubuk tersebut meroket hingga 200 persen di seluruh supermarket Inggris.
Tidak heran kalau ia dinobatkan The Guardian sebagai salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di media. Alasannya ya itu tadi ia bisa membuat Inggris kehabisan telor, padahal stoknya bertumpuk-tumpuk di supermarket dan jenisnya pun bermacam. Delia pula yang membuat suami saya betah menonton acara masak di televisi, dengan tekun suami saya mengikuti petunjuk Delia cara mengupas mangga yang benar hingga memanggang ayam dengan benar.
Ternyata acara memasak, kalau ditampilkan dengan baik, jauh lebih berguna daripada sinetron atau serial hantu-hantuan. Kalau saja ada pemilik atau produser televisi Indonesia membaca tulisan ini. Anyone?
Jamie Oliver namanya. Chef atau koki muda kenamaan di Inggris ini ditemukan secara tidak sengaja empat tahun lalu. Produser BBC yang tengah memproduksi acara masak di River Café, restoran Italia di London tempat Jamie bekerja, mendapati chef muda yang antusias, passion tentang masakannya sekaligus juga cool.
Produser jeli itu kemudian meggodok proyek pembuatan seri acara masak dengan Jamie Oliver sebagai bintangnya. Ditampilkan funky, mengobrol dengan kru ketika memasak, menampilkan teman-temannya yang juga keren, muncullah di BBC 2 acara masak baru dengan judul the Naked Chef
"It’s the food, silly. Not me naked,"kata Jamie sambil tiduran di sofa mengawali serial mingguan sepanjang setengah jam yang berhasil mengubah pandangan tentang chef dan memasak di Inggris. Kata-kata baru pun ia ciptakan, yang paling terkenal adalah pukka, bahasa Jamie untuk enak. Serialnya menjadi hit dan ia pun menjadi selebritis yang diundang kesemua pesta bertajuk "the hottest ticket in town", termasuk pesta David dan Victoria Beckham.
Apa kelebihan Jamie? Ia mengubah citra memasak sebagai sesuatu yang keren sekaligus juga fun. Ia yang sering menumbuk dengan gilingan roti, memanggang diselingi main basket, tetapi juga kenal baik dengan pelayan toko tempat ia membeli bahan masak. Namun juga tetap punya teman-teman nongkrong yang keren.
Acara the Naked Chef yang diisi dengan obrolan seru, polah kocak Jamie, dan menghasilkan masakan yang "mouth watering" bagi yang menonton. Di tutup dengan pesta atau sekedar kumpul-kumpul di apartemen Jamie dengan hidangan hasil olahannya itu.
Kadang dalam rangka menyambut temannya, menampung teman-teman ceweknya—cewek-cewek cantik—usai night out bahkan juga sekedar menghabiskan malam dengan karibnya: alias makan di depan TV ditemani berkaleng-kaleng bir.
Kini ia punya dua restoran terkenal di London, yang terbaru adalah fifteen hasil proyeknya mendidik 15 orang pemuda pengangguran menjadi chefs handal. Proyeknya ini juga menjadi serial sukses di Channel 4 berjudul Jamie's Kitchen. Kini ia berusia pertengahan dua puluhan, berputeri dua dari istrinya Jool, mantan model yang sejak pacaran rajin muncul di the Naked Chef.
Sainsbury, supermarket kedua terbesar di Inggris pun mengontraknya menjadi bintang iklannya. Hasilnya, penjualan meroket dan muncul pula produk-produk Sainsbury dengan memasang nama Jamie di kemasannya. Laris manis, terutama untuk fans Jamie: anak-anak muda Inggris yang kini punya hobby baru memasak. Instead of beli pizza atau take away, kini pesta-pesta anak muda di Inggris lebih sering hasil masak-memasak sendiri ala Jamie.
Sementara Delia Smith adalah ibu yang menjadi guru bagi semua rumah tangga di Inggris. Program memasaknya yang telah puluhan tahun disiarkan BBC menjadi acuan ibu-ibu menyiapkan hidangan di rumah. Dari mulai bagaimana merebus telur yang benar hingga hidangan pesta natal diajarkan Delia dengan tekun step by step.
Berbeda dengan Jamie, Delia memasak dengan tertib, temponya lebih lambat dan satu persatu diterangkan dengan detail. Tetapi kekuatannya bahkan melebihi Jamie, terutama dalam hal menggerakan massa secara nasional! Suatu hari sainsbury dan supermarket lain di Inggris kehabisan telur. Semua manajer pun bingung dengan peristiwa langka: telor di mana-mana out of stock!
Apa sebabnya? Ternyata malam harinya di BBC, Delia menampilkan bagaimana mengolah telur, makanan murah sehari-hari, menjadi istimewa. Dadar (omelette) istimewa, ceplok telur yang tidak gosong, hingga membuat telor setengah matang yang sempurna. Begitu indah ia mendemonstrasikan hidangan serba telur, semua yang menonton malam itu - menurut BBC acaranya ditonton jutaan orang - memutuskan membeli telur dan mencobanya ala Delia.
Tidak hanya itu kehebatan Delia Power. Ketika ia mengungkap rahasianya membuat coklat cake adalah menambahkan bubuk tertentu. Maka penjualan bubuk tersebut meroket hingga 200 persen di seluruh supermarket Inggris.
Tidak heran kalau ia dinobatkan The Guardian sebagai salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di media. Alasannya ya itu tadi ia bisa membuat Inggris kehabisan telor, padahal stoknya bertumpuk-tumpuk di supermarket dan jenisnya pun bermacam. Delia pula yang membuat suami saya betah menonton acara masak di televisi, dengan tekun suami saya mengikuti petunjuk Delia cara mengupas mangga yang benar hingga memanggang ayam dengan benar.
Ternyata acara memasak, kalau ditampilkan dengan baik, jauh lebih berguna daripada sinetron atau serial hantu-hantuan. Kalau saja ada pemilik atau produser televisi Indonesia membaca tulisan ini. Anyone?
Dia yang menjadi perantara-Nya …
Namanya Sururi Al Faruk, biasa dipanggil Sururi atau kadang juga Faruk atau saf, kode tulisannya. Adalah yang menjadi teror bagi saya sehari-hari –dan saya tidak heran kalau anak-anak Jawa Pos Jakarta juga merasakan yang sama—ketika masih menjadi "pejuang" di Jakarta.
Ia yang selalu pertama datang di redaksi, ia pula yang paling akhir meninggalkan kantor. Dan siang harinya ia akan berkeliling di lapangan, memantau perkembangan, menjalin relasi dan tentu saja mengecek anak buahnya. "Tuh, ada boss mu," begitu Anu, wartawan Rakyat Merdeka yang berkantor di atas Jawa Pos selalu meledek saya. Belum lagi terornya lewat telpon yang tidak kalah ampuh. ‘"Opo sing rame", nadanya lembut tapi membuat panik yang menjawab. Apalagi kalau ditelpon saat berita sepi dan tengah nongkrong dengan kawan seperjuangan di warung padang belakang DPR atau tongseng di belakang Bappenas.
Jabatannya resminya adalah Redaktur Pelaksana, tetapi di kantor saya dulu artinya juga mengedit berita, mengurusi "kesejahteraan" anak-anak (dibantu Bu Ning), mengatur libur (kalau ada libur), menampung keluh kesah, bahkan juga menjadi tempat melapor kalau mau pulang. "Pulang ya Mas", pinta saya tiap malam. "Wartawan masih jam segini kok dah mau pulang. Arep ngopo tho?"jawabnya. Bagi Sururi, tidak ada istilah meninggalkan kantor sebelum jam 11 malam, meskipun kalau ada alasan kuat ia akan memberi keringanan.
Tetapi pulang ke rumah kost pun bukan berarti selesai teror hari itu. Tidak jarang ketika ada perkembangan berita baru atau menemukan keanehan dengan berita yang ia edit, kembali kami akan di telpon. Dan wajib datang lagi ke kantor. "Apa ini maksudnya", begitu sambutan yang akan kita terima ketika nongol lagi di kantor. Dengan muka bantal, karena tidak jarang kita sudah tertidur pulas ketika panggilannya berdering, terpaksa harus menjelaskan kembali berita yang kami tulis.
Tidak hanya membangunkan tidur, terornya punya daya jangkau yang sangat jauh. Suatu hari misalnya, dalam perjalanan sowan calon mertua di KA Argo Lawu Jkt-semarang, telpon saya berdering. "Mana beritamu,"teriaknya. "Ada di disket di meja sampeyan," jawab saya panik. "Apa!? Itu berita kemarin, hari ini sudah muncul di Rakyat Merdeka," kembali ia berteriak.
Hari Jumat siang usai liputan, teman-teman dari beberapa koran besar sepakat untuk menyimpan berita itu untuk stok hari Senin. Saya oke saja, toh Kompas, Media Indonesia dan yang lain baru akan keluar Senin. Tetapi Anu, entah lupa/tidak tahu dengan kesepakatan itu atau kepepet mencari berita menurunkannya di hari Minggu. Bencana buat saya.
Setelah telpon dari Sururi itu, hilang kepanikan saya akan ketemu calon mertua untuk pertama kali. Sisa perjalanan bahkan sampai di Welahan --kampung (saat itu) calon suami--pikiran saya penuh dengan kemarahan Sururi dan kemarahan saya pada Anu. "Sorry..sorry,"kata Anu ketika saya teruskan kemarahan Sururi padanya.
Saya pernah bertanya ke beliau," Mas, Istri sampeyan apa nggak protes, kalau aku pasti marah suami tidak pernah ada di rumah," Jawabannya singkat, "udah bosen protes". Begitulah Sururi, wartawan yang bekerja paling keras di Jakarta, setidaknya yang saya tahu. Tetapi itu bukan sebuah rahasia, siapa pun yang kenal Sururi pasti akan membenarkan.
Rapat Kerja Komisi I dengan menteri Dalam Negeri di gedung lama DPR akhir 1997, adalah awal perkenalan saya dengan Sururi. Saat itu saya wartawan baru dan bekerja di Berita Buana sementara Sururi beserta gank-nya,tengah menunggu Mendagri Yogi S Memet. Dia menyodorkan kartu nama: Sururi Al Faruk, wartawan Jawa Pos begitu tertera di kartunya. "Gue dah bertahun-tahun bareng Sururi, nggak pernah lihat kartu namanya,"ledek Edy wartawan KR yang disambut pembenaran rekannya dengan nada meledek.
Sama-sama di Politik saya pun sering ketemu Sururi, di DPR atau acara ABRI terutama. Ia selalu hadir berombongan dengan Putra Nababan, Budi PR, Edy KR, USH Kompas, (Alm) Eko dll wartawan yang saat itu bermarkas di depdagri. Belakangan saya tahu, Sururi adalah salah satu yang paling top untuk liputan politik. Bahkan kala berita sepi, ia pula yang diandalkan untuk "menciptakan" isu baru yang esoknya akan menjadi headline di seluruh surat kabar di Indonesia. Ingat polemik Sipil-Militer Prof Dr Juwono Sudarsono, menurut cerita Mbak Nina 'poy'Republika Sururi lah yang memulainya.
Sururi pula yang saya jadikan patokan bagaimana mengejar narasumber, khususnya untuk berita-berita di belakang layar. Ia juga yang dengan tekun membujuk saya untuk "memperhatikan" Susilo(tanpa yang bersangkutan tahu), anak buahnya di Jawa Pos. Pengaruhnya yang besar membuat teman-temannya juga melakukan hal yang sama ke saya. Jadi kalau ada pihak yang paling berjasa dengan perkawinan kami, Sururi pula orangnya. Meskipun ia pula yang paling kaget (dan pasti bahagia) ketika kami mengumumkan rencana pernikahan kami.
Tidak hanya itu, ketika saya terancam PHK, Sururi pula yang menolong saya. Saya disuruhnya membuat lamaran ke Jawa Pos, ia juga memberikan rekomendasi. Jadi meskipun saya ikut tes seleksi, tetapi faktor Sururi lah yang lebih berperan. "Yah saya percaya saja sama Pak Sururi",begitu Pak Abror, Pemred Jawa Pos berkata, ketika seharusnya ia menginterview saya.
Dan satu hal yang paling berat dari kepindahan suami saya ke BBC adalah meninggalkan Sururi. Ketika kami pamitan, ia tengah terbaring menggigil di Rumah sakit Permata Hijau dekat kantor. Terserang typus sementara Jawa Pos sedang dirundung masalah dengan NU, bahkan Graha Pena Surabaya diduduki banser hingga tidak terbit sehari. "Mau jadi orang London nih," katanya lemah dan air matanya pun berlinang. Baru sekali itu saya melihat Sururi menangis.
Tidak hanya itu, ia juga yang memperjuangkan saya untuk bisa meneruskan menulis di Jawa Pos dari London. Dan salah satu yang paling saya senangi dari itu: kembali saya mendapatkan terornya! Jarak JKT-London tidak menghalanginya untuk berkali-kali menelpon dalam sehari hanya untuk mengikuti perkembangan tulisan saya. "Punya pacar baru nih," ledek suami saya yang tahu kalau saya "menikmati" kembalinya teror Sururi.
Maka kami pun tidak tahu apakah bergembira atau bersedih ketika beberapa saat lalu, kami mendapat kabar bahwa ia tidak lagi di Jawa Pos. Berhari-hari saya dan suami saya terbengong-bengong, tanpa ada kata yang terucap. Mungkin akhirnya ia mendengar protes istrinya atau alasan lain. Hanya Sururi yang tahu alasnya meninggalkan media yang ia turut besarkan.
Tapi saya dan teman-teman yang kini masih ada di Jawa Pos Jakarta –katanya sudah pindah ke gedung baru yang mentereng—akan selalu merindukan terornya. "Aku lama tidak baca tulisanmu. Aku cek terus lho, kamu jarang nulis ya," katanya lewat email mengingatkan saya bahwa seorang Sururi tetaplah Sururi.
Kata terima kasih tidak akan cukup membalas apa yang Anda lakukan kepada kami. Good luck and wish U the best
Namanya Sururi Al Faruk, biasa dipanggil Sururi atau kadang juga Faruk atau saf, kode tulisannya. Adalah yang menjadi teror bagi saya sehari-hari –dan saya tidak heran kalau anak-anak Jawa Pos Jakarta juga merasakan yang sama—ketika masih menjadi "pejuang" di Jakarta.
Ia yang selalu pertama datang di redaksi, ia pula yang paling akhir meninggalkan kantor. Dan siang harinya ia akan berkeliling di lapangan, memantau perkembangan, menjalin relasi dan tentu saja mengecek anak buahnya. "Tuh, ada boss mu," begitu Anu, wartawan Rakyat Merdeka yang berkantor di atas Jawa Pos selalu meledek saya. Belum lagi terornya lewat telpon yang tidak kalah ampuh. ‘"Opo sing rame", nadanya lembut tapi membuat panik yang menjawab. Apalagi kalau ditelpon saat berita sepi dan tengah nongkrong dengan kawan seperjuangan di warung padang belakang DPR atau tongseng di belakang Bappenas.
Jabatannya resminya adalah Redaktur Pelaksana, tetapi di kantor saya dulu artinya juga mengedit berita, mengurusi "kesejahteraan" anak-anak (dibantu Bu Ning), mengatur libur (kalau ada libur), menampung keluh kesah, bahkan juga menjadi tempat melapor kalau mau pulang. "Pulang ya Mas", pinta saya tiap malam. "Wartawan masih jam segini kok dah mau pulang. Arep ngopo tho?"jawabnya. Bagi Sururi, tidak ada istilah meninggalkan kantor sebelum jam 11 malam, meskipun kalau ada alasan kuat ia akan memberi keringanan.
Tetapi pulang ke rumah kost pun bukan berarti selesai teror hari itu. Tidak jarang ketika ada perkembangan berita baru atau menemukan keanehan dengan berita yang ia edit, kembali kami akan di telpon. Dan wajib datang lagi ke kantor. "Apa ini maksudnya", begitu sambutan yang akan kita terima ketika nongol lagi di kantor. Dengan muka bantal, karena tidak jarang kita sudah tertidur pulas ketika panggilannya berdering, terpaksa harus menjelaskan kembali berita yang kami tulis.
Tidak hanya membangunkan tidur, terornya punya daya jangkau yang sangat jauh. Suatu hari misalnya, dalam perjalanan sowan calon mertua di KA Argo Lawu Jkt-semarang, telpon saya berdering. "Mana beritamu,"teriaknya. "Ada di disket di meja sampeyan," jawab saya panik. "Apa!? Itu berita kemarin, hari ini sudah muncul di Rakyat Merdeka," kembali ia berteriak.
Hari Jumat siang usai liputan, teman-teman dari beberapa koran besar sepakat untuk menyimpan berita itu untuk stok hari Senin. Saya oke saja, toh Kompas, Media Indonesia dan yang lain baru akan keluar Senin. Tetapi Anu, entah lupa/tidak tahu dengan kesepakatan itu atau kepepet mencari berita menurunkannya di hari Minggu. Bencana buat saya.
Setelah telpon dari Sururi itu, hilang kepanikan saya akan ketemu calon mertua untuk pertama kali. Sisa perjalanan bahkan sampai di Welahan --kampung (saat itu) calon suami--pikiran saya penuh dengan kemarahan Sururi dan kemarahan saya pada Anu. "Sorry..sorry,"kata Anu ketika saya teruskan kemarahan Sururi padanya.
Saya pernah bertanya ke beliau," Mas, Istri sampeyan apa nggak protes, kalau aku pasti marah suami tidak pernah ada di rumah," Jawabannya singkat, "udah bosen protes". Begitulah Sururi, wartawan yang bekerja paling keras di Jakarta, setidaknya yang saya tahu. Tetapi itu bukan sebuah rahasia, siapa pun yang kenal Sururi pasti akan membenarkan.
Rapat Kerja Komisi I dengan menteri Dalam Negeri di gedung lama DPR akhir 1997, adalah awal perkenalan saya dengan Sururi. Saat itu saya wartawan baru dan bekerja di Berita Buana sementara Sururi beserta gank-nya,tengah menunggu Mendagri Yogi S Memet. Dia menyodorkan kartu nama: Sururi Al Faruk, wartawan Jawa Pos begitu tertera di kartunya. "Gue dah bertahun-tahun bareng Sururi, nggak pernah lihat kartu namanya,"ledek Edy wartawan KR yang disambut pembenaran rekannya dengan nada meledek.
Sama-sama di Politik saya pun sering ketemu Sururi, di DPR atau acara ABRI terutama. Ia selalu hadir berombongan dengan Putra Nababan, Budi PR, Edy KR, USH Kompas, (Alm) Eko dll wartawan yang saat itu bermarkas di depdagri. Belakangan saya tahu, Sururi adalah salah satu yang paling top untuk liputan politik. Bahkan kala berita sepi, ia pula yang diandalkan untuk "menciptakan" isu baru yang esoknya akan menjadi headline di seluruh surat kabar di Indonesia. Ingat polemik Sipil-Militer Prof Dr Juwono Sudarsono, menurut cerita Mbak Nina 'poy'Republika Sururi lah yang memulainya.
Sururi pula yang saya jadikan patokan bagaimana mengejar narasumber, khususnya untuk berita-berita di belakang layar. Ia juga yang dengan tekun membujuk saya untuk "memperhatikan" Susilo(tanpa yang bersangkutan tahu), anak buahnya di Jawa Pos. Pengaruhnya yang besar membuat teman-temannya juga melakukan hal yang sama ke saya. Jadi kalau ada pihak yang paling berjasa dengan perkawinan kami, Sururi pula orangnya. Meskipun ia pula yang paling kaget (dan pasti bahagia) ketika kami mengumumkan rencana pernikahan kami.
Tidak hanya itu, ketika saya terancam PHK, Sururi pula yang menolong saya. Saya disuruhnya membuat lamaran ke Jawa Pos, ia juga memberikan rekomendasi. Jadi meskipun saya ikut tes seleksi, tetapi faktor Sururi lah yang lebih berperan. "Yah saya percaya saja sama Pak Sururi",begitu Pak Abror, Pemred Jawa Pos berkata, ketika seharusnya ia menginterview saya.
Dan satu hal yang paling berat dari kepindahan suami saya ke BBC adalah meninggalkan Sururi. Ketika kami pamitan, ia tengah terbaring menggigil di Rumah sakit Permata Hijau dekat kantor. Terserang typus sementara Jawa Pos sedang dirundung masalah dengan NU, bahkan Graha Pena Surabaya diduduki banser hingga tidak terbit sehari. "Mau jadi orang London nih," katanya lemah dan air matanya pun berlinang. Baru sekali itu saya melihat Sururi menangis.
Tidak hanya itu, ia juga yang memperjuangkan saya untuk bisa meneruskan menulis di Jawa Pos dari London. Dan salah satu yang paling saya senangi dari itu: kembali saya mendapatkan terornya! Jarak JKT-London tidak menghalanginya untuk berkali-kali menelpon dalam sehari hanya untuk mengikuti perkembangan tulisan saya. "Punya pacar baru nih," ledek suami saya yang tahu kalau saya "menikmati" kembalinya teror Sururi.
Maka kami pun tidak tahu apakah bergembira atau bersedih ketika beberapa saat lalu, kami mendapat kabar bahwa ia tidak lagi di Jawa Pos. Berhari-hari saya dan suami saya terbengong-bengong, tanpa ada kata yang terucap. Mungkin akhirnya ia mendengar protes istrinya atau alasan lain. Hanya Sururi yang tahu alasnya meninggalkan media yang ia turut besarkan.
Tapi saya dan teman-teman yang kini masih ada di Jawa Pos Jakarta –katanya sudah pindah ke gedung baru yang mentereng—akan selalu merindukan terornya. "Aku lama tidak baca tulisanmu. Aku cek terus lho, kamu jarang nulis ya," katanya lewat email mengingatkan saya bahwa seorang Sururi tetaplah Sururi.
Kata terima kasih tidak akan cukup membalas apa yang Anda lakukan kepada kami. Good luck and wish U the best
There is only one Harrods, there is only one sale: Harrods Sale!
Begitu bunyi tulisan di bendera-bendera merah yang selalu berkibar di pertokoan termewah di London di musim sale. Dan hari ini, 29 Januari 2003 bendera itu kembali dikibarkan sampai 24 Januari nanti.
Benar kata bendera itu, Harrods cuma ada satu, yaitu di London tepatnya di kawasan Knigtsbridge. Ada satu toko lain di Bandara Heathrow London, tetapi hanya menjual sedikit cendera mata bermerk Harrods. Pernah memang ada ide untuk membuat cabang Harrods, tetapi banyak pihak yang tidak setuju dengan alasan akan mengurangi nilai eksklusif Harrods.
Dan meskipun banyak toko juga sale, tetapi there is only Harrods sale! Adalah Harrods sale yang membuat kereta underground Picadily Line penuh sesak, bahkan tadi stasiun Knigtsbridge harus ditutup karena terlalu penuh. Hanya Harrods yang kala sale, pembelinya sengaja datang dari penjuru dunia, Amerika, Eropa Timut Tengah dan juga Asia, terutama Jepang.
Berbelanja the one and only harrods sale itu ada triknya. Setidaknya menurut pengalaman saya dan beberapa teman saya. Datanglah di hari-hari pertama sale dan kembali datang di hari terakhir sale, the last three day terutama! Selain memang tidak akan cukup Anda berkeliling kelima lantai Harrods dalam waktu sehari tetapi, ada maksud lain dari "strategi" kunjungan berulang itu.
Di Hari pertama, kita bisa browsing barang apa yang di sale, harganya berapa dan apa yang kita inginkan dari barang-barang itu. Kalau sudah diincar lama dan memang diperlukan, ambil saat itu (jangan salahkan kalau barang tidak ada lagi dan tidak bisa tidur karenanya).Tetapi kalau tidak begitu perlu, tidak begitu kepengin atau harganya masih terasa kemahalan tunggulah sampai minggu kedua, ketiga atau bahkan terakhir. Karena semakin hari, harga akan semakin turun, stiker sale akan ditutup dengan further reduction sampai akhirnya sampai final reduction.
Tadi saya bersama Karin dan Tomi (meninggalkan kirana dan ayahnya di rumah, dengan alasan kemanusiaan)ikut berdesak-desakan di hari pertama sale. Kita langsung menuju ke Harrods World, tempat barang-barang bermerk Harrods, bagi orang Indonesia di London biasanya untuk oleh-oleh ke Indonesia. Dapat tas-tas Harrods seharga £ 2,95 sebiji, meskipun perlu perjuangan yang nyaris membuat Karin menyerah."Lo yang ambil deh,kan lebih militan. Gue minggir dulu",katanya sedikit panik terjepit di tengah orang-orang kalap. Saya dan Karin beli beberapa untuk persediaan. Kalau ada yang pulang tinggal di bungkus, jadilah oleh-oleh. Murah, cantik dan cool boo, Harrods! Pasti dipikir mahal dan tidak dipalsukan di Blok M.
Perburuan saya selanjutnya (selalu) adalah baju anak-anak, maklum ibu-ibu. Tadi baru 40% sale, lumayan juga. Tetapi karena tidak termasuk kategori perlu sekali dan kepengin sekali. Maka cukup lah menghapal harga dan tempat baju yang perlu saya tengok lagi di akhir nanti.
Tidak disangka, ketemu dua pasang sepatu by Kenzo berukuran 25 untuk anak usia 4 tahun. Sudah ada tiga tempelan harga, mulanya £24,99 di sale menjadi £19,99, further reduction £19.99 akhirnya sale tertera £9,99. ‘’Lucu dan bagus tapi masih mahal’’ kata saya ke Karin, tetapi ternyata di sebelah £9,99 ada tulisan pakai ballpoint £4,95. Tidak yakin datang saya ke kasir, minta di scan untuk mencek harga yang sebenarnya.
"Yep, It’s £ 4,95" kata kasir. "Horeee", hati saya berbunga. Dapat bargain di hari pertama! Dua-duanya saya ambil karena biarpun modelnya sama tetapi warnanya beda. Sepatu Kenzo seharga dua potong tempe di London, siapa nolak!
Nah, kejadian stempel harga yang bertumpuk itu lah alasan kenapa kita perlu datang lagi di hari-hari akhir sale. The last three day nanti, untuk barang yang memang harus hilang dari toko musim ini, berarti akan dipotong harganya habis-habisan.
Tidak hanya £4,45, saya sering mendapatkan baju-baju Kirana hanya dengan harga £0,99 alias 99 pence, £ 1,99 atau £ 2,99. dan baju-baju itu bukan sembarangan: DNKY, Dior, Kenzo, you name it, merk yang tanpa sale tidak terbayang akan ada di lemari rumah saya. Tahun lalu di hari terakhir Harrods sale saya dapat jeans DNKY dan Calvin Klein buat suami saya hanya dengan harga £ 8 each! Itu yang saya ingat, yang lain banyak, apalagi punya Kirana.
Seandainya saya di Jakarta, memakai baju bermerk designer Luar negeri paling juga yang palsu. Karena tidak akan mampu beli aslinya. Hidup di London membuat saya bisa memiliki merk-merk yang dulu saya hanya bisa mengagumi dari balik kaca etalase Plaza Senayan atau Plaza Indonesia. Anda kini tahu mengapa? Yang pasti bukan karena kini saya kaya dan banyak uang.
Tetapi karena saya belanja di tempat yang tepat dan waktu yang tepat. The right place and the right time. Jadi kalau suatu saat Anda bertemu saya dan memakai barang bermerk, Anda tahu dimana saya mendapatkannya dan kira-kira harganya berapa.
Statistik pendukung:
*£1 sekitar Rp 13,000-an
*Tempe satu potong di London = £ 2,40
*Satu ikat kangkung= £2,50
*Tahu China per biji= £ 1,20
*Kecap ABC botol besar= £2,30
*Sambal ABC= £1,30
Begitu bunyi tulisan di bendera-bendera merah yang selalu berkibar di pertokoan termewah di London di musim sale. Dan hari ini, 29 Januari 2003 bendera itu kembali dikibarkan sampai 24 Januari nanti.
Benar kata bendera itu, Harrods cuma ada satu, yaitu di London tepatnya di kawasan Knigtsbridge. Ada satu toko lain di Bandara Heathrow London, tetapi hanya menjual sedikit cendera mata bermerk Harrods. Pernah memang ada ide untuk membuat cabang Harrods, tetapi banyak pihak yang tidak setuju dengan alasan akan mengurangi nilai eksklusif Harrods.
Dan meskipun banyak toko juga sale, tetapi there is only Harrods sale! Adalah Harrods sale yang membuat kereta underground Picadily Line penuh sesak, bahkan tadi stasiun Knigtsbridge harus ditutup karena terlalu penuh. Hanya Harrods yang kala sale, pembelinya sengaja datang dari penjuru dunia, Amerika, Eropa Timut Tengah dan juga Asia, terutama Jepang.
Berbelanja the one and only harrods sale itu ada triknya. Setidaknya menurut pengalaman saya dan beberapa teman saya. Datanglah di hari-hari pertama sale dan kembali datang di hari terakhir sale, the last three day terutama! Selain memang tidak akan cukup Anda berkeliling kelima lantai Harrods dalam waktu sehari tetapi, ada maksud lain dari "strategi" kunjungan berulang itu.
Di Hari pertama, kita bisa browsing barang apa yang di sale, harganya berapa dan apa yang kita inginkan dari barang-barang itu. Kalau sudah diincar lama dan memang diperlukan, ambil saat itu (jangan salahkan kalau barang tidak ada lagi dan tidak bisa tidur karenanya).Tetapi kalau tidak begitu perlu, tidak begitu kepengin atau harganya masih terasa kemahalan tunggulah sampai minggu kedua, ketiga atau bahkan terakhir. Karena semakin hari, harga akan semakin turun, stiker sale akan ditutup dengan further reduction sampai akhirnya sampai final reduction.
Tadi saya bersama Karin dan Tomi (meninggalkan kirana dan ayahnya di rumah, dengan alasan kemanusiaan)ikut berdesak-desakan di hari pertama sale. Kita langsung menuju ke Harrods World, tempat barang-barang bermerk Harrods, bagi orang Indonesia di London biasanya untuk oleh-oleh ke Indonesia. Dapat tas-tas Harrods seharga £ 2,95 sebiji, meskipun perlu perjuangan yang nyaris membuat Karin menyerah."Lo yang ambil deh,kan lebih militan. Gue minggir dulu",katanya sedikit panik terjepit di tengah orang-orang kalap. Saya dan Karin beli beberapa untuk persediaan. Kalau ada yang pulang tinggal di bungkus, jadilah oleh-oleh. Murah, cantik dan cool boo, Harrods! Pasti dipikir mahal dan tidak dipalsukan di Blok M.
Perburuan saya selanjutnya (selalu) adalah baju anak-anak, maklum ibu-ibu. Tadi baru 40% sale, lumayan juga. Tetapi karena tidak termasuk kategori perlu sekali dan kepengin sekali. Maka cukup lah menghapal harga dan tempat baju yang perlu saya tengok lagi di akhir nanti.
Tidak disangka, ketemu dua pasang sepatu by Kenzo berukuran 25 untuk anak usia 4 tahun. Sudah ada tiga tempelan harga, mulanya £24,99 di sale menjadi £19,99, further reduction £19.99 akhirnya sale tertera £9,99. ‘’Lucu dan bagus tapi masih mahal’’ kata saya ke Karin, tetapi ternyata di sebelah £9,99 ada tulisan pakai ballpoint £4,95. Tidak yakin datang saya ke kasir, minta di scan untuk mencek harga yang sebenarnya.
"Yep, It’s £ 4,95" kata kasir. "Horeee", hati saya berbunga. Dapat bargain di hari pertama! Dua-duanya saya ambil karena biarpun modelnya sama tetapi warnanya beda. Sepatu Kenzo seharga dua potong tempe di London, siapa nolak!
Nah, kejadian stempel harga yang bertumpuk itu lah alasan kenapa kita perlu datang lagi di hari-hari akhir sale. The last three day nanti, untuk barang yang memang harus hilang dari toko musim ini, berarti akan dipotong harganya habis-habisan.
Tidak hanya £4,45, saya sering mendapatkan baju-baju Kirana hanya dengan harga £0,99 alias 99 pence, £ 1,99 atau £ 2,99. dan baju-baju itu bukan sembarangan: DNKY, Dior, Kenzo, you name it, merk yang tanpa sale tidak terbayang akan ada di lemari rumah saya. Tahun lalu di hari terakhir Harrods sale saya dapat jeans DNKY dan Calvin Klein buat suami saya hanya dengan harga £ 8 each! Itu yang saya ingat, yang lain banyak, apalagi punya Kirana.
Seandainya saya di Jakarta, memakai baju bermerk designer Luar negeri paling juga yang palsu. Karena tidak akan mampu beli aslinya. Hidup di London membuat saya bisa memiliki merk-merk yang dulu saya hanya bisa mengagumi dari balik kaca etalase Plaza Senayan atau Plaza Indonesia. Anda kini tahu mengapa? Yang pasti bukan karena kini saya kaya dan banyak uang.
Tetapi karena saya belanja di tempat yang tepat dan waktu yang tepat. The right place and the right time. Jadi kalau suatu saat Anda bertemu saya dan memakai barang bermerk, Anda tahu dimana saya mendapatkannya dan kira-kira harganya berapa.
Statistik pendukung:
*£1 sekitar Rp 13,000-an
*Tempe satu potong di London = £ 2,40
*Satu ikat kangkung= £2,50
*Tahu China per biji= £ 1,20
*Kecap ABC botol besar= £2,30
*Sambal ABC= £1,30
Subscribe to:
Posts (Atom)