Saturday, May 08, 2004

Rujak dan Ulekan Batu

Dua minggu lalu, teman yang tinggal di Wimbledon menitipkan mangga setengah matang melalui suaminya, "untuk Ibu hamil, yang biasanya suka yang asam-asam", begitu pesannya. Padahal selama kehamilan saya -- sekarang sudah masuk minggu ke-19 -- tidak pernah sekalipun kepengin yang asam, atau pun "ngidam" satu jenis makanan tertentu.

Karena terlalu asam untuk dimakan langsung, saya pun membuat bumbu rujak sebagai teman makan mangga itu. Untuk menambah ramai saya tambah potongan apel, karena malam itu tidak tersedia buah lain yang "rujakable". Tidak disangka, kalau rujak yang tidak niat itu ternyata enak sekali: pedas, asam dan manis campur jadi satu. Mual dan pusing saya langsung hilang dan perut pun langsung hangat (saking pedasnya).

Sejak malam itu, saya jadi ketagihan makan pedas. Tiada hari tanpa sambal, pernah suatu hari ketika tidak ada makanan yang cocok untuk bersambal, saya maksa ngemil strawberry dicolek ke sambal terasi! Tenggorokan saya yang biasanya langsung protes kalau saya makan terlalu pedas ( gara-gara amandel yang terlalu besar tetapi malas untuk di operasi) dan perut saya, kali ini pun berbaik hati. Tidak pernah ada keluhan, kecuali perut panas itu.

Bisa dibayangkan, kalau sekarang setiap saat tersedia rujak atau sambal di rumah. Dari makan besar atau sekedar ngemil : pedas is a must!

Cerita tentang rujak, mengingatkan saya dengan kisah ulekan mungil yang saya pakai membuat bumbunya. Ulekan itu, yang selama ini lebih banyak menganggur karena selain terlalu kecil juga saya malas ngulek dan lebih mudah pakai blender, saya beli di Prambanan, Yogyakarta dua tahun lalu ketika pulang ke Indonesia.

Seorang teman di London pernah menawarkan ke saya, ulekan yang lebih besar seperti yang ia punya, karena kebetulan temannya importir barang-barang dari Indonesia, mulai dari ulekan sampai furniture antik. Di tunggu-tungu sampai sekarang barangnya tidak pernah ada, terakhir dengar sudah beralih profesi dan tidak berjualan lagi. Terpaksalah saya setia dengan ulekan mungil yang menurut janji penjualnya, asli dari batu pegunungan sekitar Prambanan.

Masih tentang ulekan, teman saya yang lain punya cerita lucu. Ia punya teman yang tinggal di salah satu negara Eropa juga tapi saya lupa dimana tepatnya, yang jarang penduduk asal Asia, maka itu penduduk lokal masih agak rasis (atau mungkin bisa juga sebaliknya: orang asing enggan tinggal di negara itu karena penduduknya rasis). Suatu hari si orang Indonesia itu ingin masak-memasak bareng di rumah temannya. Ingin bercita rasa asli, ia angkut ulekannya --yang berukuran cukup besar--naik bus ke rumah temannya.

Dengan tidak taktisnya ia membawa ulekan yang pasti berat itu dengan ditenteng di tas plastik, bukan kejutan kalau di bus tas plastik itu jebol dan dengan tidak berdosa menimpa kaki salah satu penumpang bus. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya si penumpang sial itu, berteriak-teriak dengan bahasa lokal membuat kegemparan di bus yang kalau diterjemahkan kira-kira: "Dasar Asia, batu di bawa-bawa!"

Tentu saja, si Indonesia pembawa ulekan itu hanya bisa nyengir dan minta maaf tanpa bisa menjelaskan bahwa batu yang ia bawa bukanlah sekedar batu. Cerita teman saya ini lah alasan utama kenapa ulekan yang saya pilih untuk dibawa ke London justru yang kecil mungil, yang susah dipakai ngulek. Saya hanya takut kalau saat pemeriksaan di bandara ulekan itu ketahuan dan saya pun terpaksa harus menerangkan mengapa saya terbang dengan membawa batu.

foto: rujak made in Thamesmead dan ulekan batu asli Prambanan itu.

Saturday, May 01, 2004

Kirana's New Helmet

Kemarin, karena ada teman yang kebetulan juga plumber, fixing something in the kitchen, sementara Kirana libur –gurunya ada rapat—(kok mirip SD di kampungku dulu ya). Artinya, Kirana harus diungsikan menghindari dia mengganggu proses pengerjaan.

Bingung mau kemana, terlanjur beli tiket zone 2-6 (tidak bisa ke central London, Zone 1) pergilah kita ke Canary Wharf dan Canada Water di Zone 2-3. Beberapa waktu ini, saya menemukan cara lebih murah bepergian di London. Sebelumnya selalu beli one day travelcard (tiket yang berlaku untuk all tranportasi di London dalam sehari) zone 1-4, karena rumah ada di zone 4 dan paling jauh saya pergi juga ke radius Zone tersebut.

Suatu hari ketika beli tiket saya notice bahwa untuk tiket Zone 2-6 jauh lebih murah (beda hampir £2) dan karena tidak selalu saya bepergian ke Zone 1 maka, sejak itu saya beli travelcard Zone 2-6. Tiket saya lebih murah lagi, karena yang saya beli adalah tipe family yang saratnya harus ada anak. Pas dengan saya yang kemanapun mengajak Kirana.

Canary Wharf jaraknya hanya satu stop dari North Greenwich Station via jubilee line, tempat saya memulai journey (dari rumah ke NG naik bus sekali). Selain kompleks perkantoran terbaru dan termodern di London, Canary Wharf juga tempat belanja yang asyik karena selain lengkap juga indoor, yang untuk kondisi London yang hampir selalu dingin dan hujan, seperti yang terjadi kemarin, sangat membantu.

Tujuan utama beli topi summer untuk Kirana. Beberapa hari lalu, ketika matahari sempat muncul dan sempat pula mencapai 22 derajat, saya lihat banyak anak-anak kecil sudah mulai ber-topi summer. Topi lebar, berwarna cerah dengan tali ikat di leher, lucu dan very summery. Pergilah kita ke GAP Kids, dan topi yang saya bayangkan berjajar rapi dengan cantiknya.

Tapi apa yang terjadi, kirana memberontak: "I don’t want a new hat mummy, I’ve already got many hats at home". Berlari menolak setiap kali saya bujuk mencoba topi. Kesal dengan ulah Kirana, saya batalkan beli topi, dan beli beberapa item lain yang di counter sale (salah satunya jeket tipis berbunga cerah-ceria, dengan harga under £5) , tanpa berkonsultasi dengan Kirana.

Bosan mondar-mandir di Canary wharf, dan telpon rumah ternyata dapur belum selesai, kami lanjutkan perjalanan ke Canada Water, satu stop setelah Canary Wharf. Tepat di luar stasiun ada Decathlon, superstore khusus perlengkapan olahraga. Saya senang ke sini karena semua lengkap, dan pelayannya very helpfull dan tahu benar secara teknis barang-barang yang di jualnya. Ternyata karena sarat menjadi pelayan di decathlon adalah: passion dengan olahraga. Pantesan ahli!

Decathlon dibagi dua gedung, satu untuk indoor sport dan satunya outdoor sport semacam hiking, bersepeda, sky, camping dll. Pertama, masuk ke outdoor sport, karena ingin mencari helm sepeda Kirana.

Tentang helm bersepeda, di Inggris hukumnya wajib. Dan wajib di sini artinya benar-benar wajib. Biar pun anak kecil, kalau bersepeda di luar rumah (dengan berapapun roda sepedanya) wajib untuk memakai helm. Kebayang kalau di kampung saya, peraturan itu juga diberlakukan. Lucu kali ya dan pasti tidak dihiraukan.

Seperti biasa setiap kali masuk ke decathlon, pasti bingung karena so many choices dan juga banyak soal teknis yang sama sekali tidak saya pahami. Beberapa waktu lalu, ketika ingin beli sepeda Kirana misalnya, baru saya tahu ada banyak jenis sepeda anak yang meskipun satu model tetapi berbeda tingkat keselamatan (safety).

Begitu pula dengan helm, ternyata juga sedikit rumit. Tapi seperti biasa pula ada staff yang selalu siap membantu memilihkan yang paling cocok dengan kebutuhan. Ketemu yang Kirana suka (gambarnya) dan ternyata pas dengan ukuran kepalanya (yang ternyata harus diukur serius). Dan ternyata sale pula, dari £14,99 menjadi £4,99, my lucky day!

Setelah itu ke bagian walking shoes, karena saya perlu sandal musim panas yang enak untuk jalan (tanpa hak tinggi tentunya dengan kondisi kehamilan saya). Banyak sekali pilihan, saya putuskan beli yang termurah karena setelah mencoba beberapa sandal (termasuk yang buat hiking hehe) semua enak. You know what, ketika saya bayar dari kasir, sandal saya itu ternyata juga sale dari £11,99 menjadi £6,99!

Keberuntungan tidak berhenti mengikuti saya hari itu, karena ketika melihat sepatu anak-anak saya menemukan sepatu yang saya inginkan untuk Kirana (sepatu untuk sekolah karena yang lama sudah bluthuk dan mulai sempit) dengan harga £1, sale tentu saja. Alhamdulillah.

Capai muter-muter, termasuk bergaya dengan mencoba (tidak beli) segala macam jenis kacamata hitam, mulai yang buat sky, bersepeda sampai jenis "ringan" untuk jalan-jalan, mencoba berbagai jenis women running shoes, leisure shoes dll akhirnya saya putuskan untuk pulang.

Sampai rumah, pas dengan berakhirnya pekerjaan di dapur. Kirana langsung pakai sepatu, helm dan jaketnya. Tidak mau di copot sampai menjelang tidur. Pagi ini, bangun tidur ia kembali mencari sepatu, helm dan jaketnya.

It was lovely day yesterday (disamping hujan dan kembali dingin), considering mendapatkan apa yang dicari dengan harga yang jauh lebih murah dari yang seharusnya. Sehingga ledekan suami saya: "oh gitu, belanja untuk dirinya sendiri. Yang di rumah dilupakan, tidak dibelikan apapun". Terasa nyanyian yang tidak annoying. "Perlu apa emang? Next time kita belanja lagi", jawab saya yang memang cari alasan untuk ke decathlon lagi.

Wednesday, April 28, 2004

Mirip Siapa?
(Warning: Tulisan ini tidak menerima komentar dalam bentuk protes!)

Hampir semua yang pernah bertemu Kirana pasti berkesimpulan mirip mummy-nya. Padahal saya ketika seumur Kirana sama sekali berwajah berbeda dengan Kirana sekarang.
Tapi bagaimana pun saya menjelaskan ketidakmiripan saya, fakta yang ada (setidaknya bagi mereka) Kirana mirip saya yang sekarang. Dan tentu saja saya susah membuktikan rupa saya ketika seumuran Kirana. Foto saya kecil? Di kampung Purbalingga sana.

Jadi, Kirana 3,5 tahun mirip saya ketika usia menjelang 30 tahun. Nah, jangan-jangan kalau nanti Kirana berumur 30 tahun, ia akan mirip saya di usia 55 tahun. Tua banget dong!

"Asal lihat Kirana, pasti langsung tahu yang mana ibunya," kata teman saya di satu acara kumpul-kumpul. Dan itu hanya salah satu komentar, dari yang selalu kami terima. Bahkan, untuk yang rutin ketemu Kirana dan saya bahkan menyimpulkan bahwa semakin lama, Kirana semakin mirip mummy-nya.

Tidak hanya teman yang berkesimpulan begitu. Beberapa hari lalu, delivery man dari John Lewis, yang mengantarkan barang juga berkesimpulan tidak beda. Katanya, Kirana serupa benar dengan mummy-nya. "Really?" jawab saya pura-pura takjub, padahal kesimpulan itu sudah saya dengar (mungkin) ratusan kali.

Sebaliknya, suami saya selalu kesal karena dibilang orang (terutama teman-teman dekatnya) bahwa Kirana sama sekali tidak mirip dengannya. "Kok bisa, anakmu cantik sih"! hahaha saya hanya tertawa senang sementara suami saya menggerutu. "Lihat dong ibunya", kata saya menambah kesal suami saya.
Tenda Biru di Belakang Rumah

Spring has come, dan cuaca sudah mulai cerah. Bahkan beberapa hari ini sudah mencapai 22 celcius, yang untuk ukuran London sudah panas.

Karena itu pula, sejak beberapa waktu lalu tenda biru kami pun sudah kembali dipasang. Tenda yang kami beli dua tahun lalu, dalam rangka camping dengan teman-teman Al Ikhlas, kini menjadi rumah kecil Kirana.

Semua mainannya saya ungsikan ke dalam tenda biru itu, dari mulai "dapur" kirana hingga boneka-bonekanya. Lumayan, mengurangi kesumpekan ruang tamu kami yang tidak seberapa besar itu. Kalau saja tiap hari London bercuaca seperti sekarang, all year around saya bisa menikmati leganya living room tanpa ada pemandangan menganggu mainan Kirana yang berserakan.

Pulang sekolah, Kirana akan ke rumahnya itu dan saya pun ikut bergabung. Dengan bekal koran atau buku dan setumpuk bantal, dan hanya perlu sesekali menimpali celotehan Kirana, berdua kami menikmati indahnya sinar matahari.

"What do you want mummy, tea or coffee?" kata Kirana berulang-ulang memaksa saya untuk bergerak dari kemalasan. Tapi kadang, karena asyiknya ia melupakan kehadiran saya, yang memberikan kesempatan saya untuk memejamkan mata beberapa saat.

"Mummy. Open your eyes! Wake up, please!Your dinner is ready."Mengantarkan saya kembali ke dunia nyata.

Ps. Konsekuensi yang harus saya bayar: berat badan saya naik beberapa kilo. Well, saya membela diri, ini karena kehamilan saya yang juga semakin membesar. Biarpun tiduran di tenda sepanjang siang tidak kalah berperan juga.