Karena terlalu asam untuk dimakan langsung, saya pun membuat bumbu rujak sebagai teman makan mangga itu. Untuk menambah ramai saya tambah potongan apel, karena malam itu tidak tersedia buah lain yang "rujakable". Tidak disangka, kalau rujak yang tidak niat itu ternyata enak sekali: pedas, asam dan manis campur jadi satu. Mual dan pusing saya langsung hilang dan perut pun langsung hangat (saking pedasnya).
Sejak malam itu, saya jadi ketagihan makan pedas. Tiada hari tanpa sambal, pernah suatu hari ketika tidak ada makanan yang cocok untuk bersambal, saya maksa ngemil strawberry dicolek ke sambal terasi! Tenggorokan saya yang biasanya langsung protes kalau saya makan terlalu pedas ( gara-gara amandel yang terlalu besar tetapi malas untuk di operasi) dan perut saya, kali ini pun berbaik hati. Tidak pernah ada keluhan, kecuali perut panas itu.
Bisa dibayangkan, kalau sekarang setiap saat tersedia rujak atau sambal di rumah. Dari makan besar atau sekedar ngemil : pedas is a must!
Cerita tentang rujak, mengingatkan saya dengan kisah ulekan mungil yang saya pakai membuat bumbunya. Ulekan itu, yang selama ini lebih banyak menganggur karena selain terlalu kecil juga saya malas ngulek dan lebih mudah pakai blender, saya beli di Prambanan, Yogyakarta dua tahun lalu ketika pulang ke Indonesia.
Seorang teman di London pernah menawarkan ke saya, ulekan yang lebih besar seperti yang ia punya, karena kebetulan temannya importir barang-barang dari Indonesia, mulai dari ulekan sampai furniture antik. Di tunggu-tungu sampai sekarang barangnya tidak pernah ada, terakhir dengar sudah beralih profesi dan tidak berjualan lagi. Terpaksalah saya setia dengan ulekan mungil yang menurut janji penjualnya, asli dari batu pegunungan sekitar Prambanan.
Masih tentang ulekan, teman saya yang lain punya cerita lucu. Ia punya teman yang tinggal di salah satu negara Eropa juga tapi saya lupa dimana tepatnya, yang jarang penduduk asal Asia, maka itu penduduk lokal masih agak rasis (atau mungkin bisa juga sebaliknya: orang asing enggan tinggal di negara itu karena penduduknya rasis). Suatu hari si orang Indonesia itu ingin masak-memasak bareng di rumah temannya. Ingin bercita rasa asli, ia angkut ulekannya --yang berukuran cukup besar--naik bus ke rumah temannya.
Dengan tidak taktisnya ia membawa ulekan yang pasti berat itu dengan ditenteng di tas plastik, bukan kejutan kalau di bus tas plastik itu jebol dan dengan tidak berdosa menimpa kaki salah satu penumpang bus. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya si penumpang sial itu, berteriak-teriak dengan bahasa lokal membuat kegemparan di bus yang kalau diterjemahkan kira-kira: "Dasar Asia, batu di bawa-bawa!"
Tentu saja, si Indonesia pembawa ulekan itu hanya bisa nyengir dan minta maaf tanpa bisa menjelaskan bahwa batu yang ia bawa bukanlah sekedar batu. Cerita teman saya ini lah alasan utama kenapa ulekan yang saya pilih untuk dibawa ke London justru yang kecil mungil, yang susah dipakai ngulek. Saya hanya takut kalau saat pemeriksaan di bandara ulekan itu ketahuan dan saya pun terpaksa harus menerangkan mengapa saya terbang dengan membawa batu.
foto: rujak made in Thamesmead dan ulekan batu asli Prambanan itu.